Program Studi Farmasi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera, baru saja mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Pendirian Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) pada Kamis, 29 Agustus 2024. Diskusi ini mengundang Prof. Dr. apt. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc.Eng yang merupakan guru besar Sekolah Farmasi ITB serta The President of The Asia Association of School of Pharmacy (AASP) periode 2024-2025. Diskusi ini juga mengundang Prof. Dr. apt. Andreanus Andaja Soemardji, DEA, yang saat ini aktif mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Maranatha. Prof. Dr. apt. Andreanus Andaja Soemardji, DEA juga merupakan Dosen Luar Biasa di Farmasi ITERA serta merupakan dosen purna Sekolah Farmasi ITB. Acara ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Sri Efrinita Irwan, M.Si, Koordinator Program Studi Farmasi Dr.apt.Syaikhul Aziz, S.Far., M.Si, Ketua kelompok keilmuwan Farmasi Sains Teknologi Bahan Alam (FSTBA) apt. Riri Fauzia, M. Farm, Ketua kelompok keilmuwan Farmakologi dan Farmasi Klinis-Komunitas (FKKK). Hadir pula dalam acara ini dosen lainnya yaitu dosen-dosen Farmasi lainnya.

Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Sains ITERA Sri Efrinita Irwan, M.Si yang menyampaikan pentingnya percepatan pendirian profesi apoteker agar bisa mengakomodir studi lanjut dari alumni Farmasi ITERA. Sambutan juga disampaikan oleh KoordinatorProgram Studi Farmasi Dr.apt.Syaikhul Aziz, S.Far., M.Si yang menyampaikan mengenai profil Program Studi Farmasi ITERA.
Prof Andreanus dalam pemaparannya menyampaikan bahwa Pendidikan Profesi Apoteker harus memperhatikan keselarasan dengan peraturan perundang-undangan mengenai kesehatan di Indonesia, rekomendasi Capaian Pembelajaran Lulusan yang disusun oleh APTFI serta Standar Kompetensi Apoteker Indonesia (SKAI).
“Pendidikan Farmasi dan Apoteker harus menanamkan Primum Non Nocere atau First Do Not Harm dimana kita harus prima dalam memberikan pelayanan kefarmasian serta Dedicatio Humaniores yaitu harus memiliki dedikasi kemanusiaan” – Dr. apt. Andreanus Andaja Soemardji, DEA
Prof. Dr. apt. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc.Eng menyampaikan di awal pemaparannya bahwa saat ini terdapat sejumlah 299 Prodi Sarjana Farmasi di Indonesia. Sementara, baru terdapat sejumlah 75 Pendidikan Profesi Apoteker. Sehingga, sangat dibutuhkan Program Profesi Apoteker. Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa terdapat beberapa perubahan ketentuan PSPA sebagaimana Permendikbud No 53 tahun 2023. Disampaikan juga bahwa saat ini APTFI sedang merevisi CPL program S1 Farmasi, Profesi apoteker serta program S2 dan S3 Farmasi. Struktur kurikulum PSPA sekurang-kurangnya
mencakup Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) sejumlah 26 sks, studi kasus sebagai pengantar PKPA sejumlah 4 sks dan Ujian Apoteker (termasuk di dalamnya UKAI) sejumlah 2 sks. Disampaikan pula bahwa sebagai syarat pembukaan PSPA, harus terdapat Perseptor, kurikulum yang sesuai, Laboratorium OSCE (Observed Structured Clinical Examination) sesuai standar, Ruang CBT (Computer Based Test), dan Apotek Pendidikan.
Diharapkan dengan acara diskusi ini, dapat menambah bekal bagi Program Studi Farmasi ITERA dalam proses pendirian Program Studi Profesi Apoteker.
